AI Investdesk
Masuk
SAHAM IDX·DAMPAK 7/10·Sentimen negatif

Asing Net Sell Rp365 Miliar, IHSG Tertekan di Sesi I 29 September 2026

Layar perdagangan saham menunjukkan angka merah yang menandakan penurunan indeks
Layar perdagangan di Bursa Efek Indonesia menunjukkan tekanan jual pada sesi I 29 September 2026.(Wikimedia Commons / w_lemay · CC BY-SA 2.0)
Poin kunci
  • —IHSG melemah 0,21% ke level 6.135 pada penutupan sesi I, dengan volatilitas tinggi akibat rentang pergerakan 137 poin.
  • —Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp365,88 miliar, didominasi oleh penjualan ADMF (Rp243,05 miliar) dan BMRI (Rp104,54 miliar).
  • —Kebijakan baru BEI menurunkan harga minimum saham menjadi Rp1, memicu tekanan jual pada saham 'gocap' dan meningkatkan kehati-hatian pasar.
  • —Tekanan eksternal dari penguatan dolar AS dan kebijakan moneter global yang ketat turut membayangi pasar keuangan Indonesia.

Tekanan Jual Asing Dominasi Sesi I, IHSG Terkoreksi Tipis

Pasar saham Indonesia dibuka dengan nada hati-hati pada Selasa (29/9/2026). IHSG tercatat turun 12,86 poin atau 0,21% ke level 6.135 pada penutupan sesi I, menurut data CNBC Indonesia. Indeks sempat menyentuh titik terendah harian di 6.013,08 sekitar pukul 09.30 WIB sebelum menunjukkan pemulihan ke level tertinggi harian 6.150,55 menjelang tengah hari. Namun, aksi ambil untung kembali menyeret indeks ke zona merah.

Aliran Dana Asing: Net Sell Signifikan

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang dikutip CNBC Indonesia, investor asing membukukan net foreign sell sebesar Rp365,88 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi I. Nilai transaksi asing mencapai Rp5,61 triliun, dengan rincian pembelian bersih (foreign buy) Rp2,62 triliun dan penjualan bersih (foreign sell) Rp2,99 triliun.

Saham Net Sell (Rp Miliar)
ADMF (Adira Dinamika Multi Finance) 243,05
BMRI (Bank Mandiri) 104,54
BBCA (Bank Central Asia) 75,20
TLKM (Telkom Indonesia) 63,57
ADRO (Alamtri Resources Indonesia) 39,89

Saham ADMF menjadi target jual terbesar asing, jauh melampaui saham-saham blue chip lainnya. Penjualan juga tercatat pada BMRI dan BBCA, dua bank terbesar di Indonesia, yang menunjukkan kehati-hatian investor global terhadap sektor perbankan.

Dampak Kebijakan BEI dan Faktor Eksternal

Volatilitas tinggi ini bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan tunai sejak Senin (28/9/2026). Kebijakan ini bertujuan memperluas rentang perdagangan dan meningkatkan likuiditas, namun memicu tekanan jual pada saham-saham berisiko tinggi atau yang dikenal sebagai saham "gocap".

"Kami menilai bahwa kombinasi antara perubahan regulasi domestik dan tekanan eksternal menciptakan lingkungan yang lebih volatil bagi investor asing," ujar analis pasar.

Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS dan kebijakan moneter global yang lebih ketat terus membayangi pasar negara berkembang. Rupiah juga tercatat melemah terhadap dolar AS pada perdagangan awal pekan, menambah tekanan pada aset-aset berdenominasi rupiah.

Saham yang Masih Diburu Asing

Di tengah dominasi aksi jual, beberapa saham masih menjadi incaran investor asing. BBRI tercatat sebagai saham dengan net buy terbesar senilai Rp66,87 miliar, disusul TPIA (Rp30,93 miliar) dan ASII (Rp21,68 miliar). Hal ini menunjukkan bahwa investor asing masih selektif dalam memilih aset dengan fundamental kuat.

Sekarang, pelaku pasar menantikan bagaimana respons pasar di sesi II, terutama apakah tekanan jual akan berlanjut ataukah ada pemulihan yang lebih signifikan. Volatilitas tinggi diperkirakan akan tetap menjadi ciri khas perdagangan dalam jangka pendek.


Sumber

ASET YANG DISEBUT DALAM LAPORAN INI
BBCA.JKIDX

Grafik harga dan penilaian komite untuk aset di atas ada di terminal. Buat akun gratis untuk membukanya.

Warta terkait

Warta ini hanya separuh ceritanya

Grafik harga langsung, putusan empat agen AI, katalog 400+ instrumen, dan laboratorium backtest ada di dalam terminal. Buat akun gratis untuk membukanya.