JAKARTA — Pasar keuangan domestik menunjukkan momentum pemulihan yang signifikan pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Rupiah melesat tajam terhadap dolar Amerika Serikat, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil kembali ke zona hijau, didorong oleh pergeseran sentimen global yang positif.
Menurut data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, rupiah terapresiasi 0,53% ke posisi Rp17.865/US$ per pukul 11.06 WIB. Penguatan ini terjadi setelah mata uang Garuda membuka perdagangan di level Rp17.910/US$. Dibandingkan penutupan Selasa (29/9/2026) di Rp17.960/US$, rupiah telah menguat 95 poin. Kami menilai pergerakan ini krusial karena berhasil menjauhkan rupiah dari level resistensi psikologis Rp18.000/US$ yang sempat ditembus pada perdagangan intraday sebelumnya.
Sinyal Hawkish The Fed dan Dampaknya pada Aset Riil
Katalis utama penguatan ini berasal dari pasar obligasi global. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun terkoreksi 0,10% ke level 5,24%. Penurunan yield ini, meski terjadi di tengah ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang masih ketat (hawkish), memberikan ruang bagi aliran dana asing untuk kembali masuk ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Sentimen market sedikit berbalik positif menyusul adanya laporan yang menyebutkan bahwa Gedung Putih terbuka untuk mempertimbangkan peninjauan kembali sanksi terhadap Iran demi meredakan tensi konflik geopolitik," tulis M. Nafan Aji Gusta, CTA, CSA, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, dalam laporan Strategy Notes & JCI Technical View.
Meredanya ketegangan di Timur Tengah berdampak langsung pada harga energi. Harga minyak mentah WTI turun 3,95% menjadi US$88,95 per barel, sedangkan Brent terkoreksi 1,99% ke US$95,88 per barel. Penurunan harga minyak ini berpotensi meringankan beban inflasi global dan meningkatkan daya beli konsumen, yang pada gilirannya mendukung kinerja emiten-emiten di sektor energi dan manufaktur di IDXCOMPOSITE.
Prospek IHSG dan Tekanan Inflasi AS
Pada sesi I perdagangan, IHSG menguat 0,5% ke level 6.152. Kami memperkirakan bahwa dengan sentimen positif ini, indeks memiliki potensi untuk mendekati level 6.200-an dalam sesi berikutnya, terutama jika aliran dana asing ke sektor perbankan dan teknologi tetap stabil.
Namun, pelaku pasar masih waspada terhadap data ekonomi Amerika Serikat. Inflasi PCE utama diproyeksikan bertahan di 3,7% dan PCE inti di 3,3%, keduanya masih di atas target The Fed sebesar 2%. Belanja konsumen AS yang kuat (diproyeksikan tumbuh 0,8% bulanan) menunjukkan permintaan domestik yang resilien.
| Aset | Pergerakan | Level Terakhir | Dampak |
|---|---|---|---|
| Rupiah (USDCIDR) | +0,53% | Rp17.865/US$ | Positif untuk biaya impor |
| IHSG (IDXCOMPOSITE) | +0,5% | 6.152 | Rebound dari tekanan jual |
| Minyak WTI | -3,95% | US$88,95/bbl | Meredakan inflasi global |
| US Treasury 10Y | -0,10% | 5,24% | Meningkatkan daya tarik EM |
Analisis kami menunjukkan bahwa kombinasi inflasi yang masih tinggi dan konsumsi yang kuat di AS dapat menjadi sinyal bahwa permintaan domestik belum cukup melemah untuk memberikan tekanan penurunan harga secara signifikan. Oleh karena itu, volatilitas di pasar kripto dan saham teknologi AS (US tech) mungkin masih akan berlanjut, namun penguatan rupiah memberikan bantalan bagi investor domestik di pasar saham Indonesia.
Sumber
- Breaking! Rupiah Menguat 0,53%, Dolar AS Turun ke Rp17.865 — CNBC Indonesia
- Video: Sinyal Hawkish The Fed - Rupiah Menguat dan IHSG Dekati 6.200-an — CNBC Indonesia



