Pergeseran Strategi Moneter: Efisiensi Cadangan Devisa vs Stabilitas Kurs
Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR pada 28 September 2026, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan perubahan signifikan dalam strategi stabilisasi nilai tukar rupiah. Menurut CNBC Indonesia, intervensi di pasar spot kini hanya menyumbang 30% dari total intervensi BI, sebuah penurunan drastis dari dominasi pasar spot di masa lalu. Pergeseran ini didorong oleh pertimbangan efisiensi, mengingat penjualan dolar langsung di pasar spot sangat menggerus cadangan devisa (cadev).
"Kita pun sekarang sudah sangat mengurangi intervensi yang mahal, itu melalui spot, jumlahnya sekitar 30% dari total intervensi yang kami lakukan," ujar Destry. BI kini lebih mengandalkan instrumen derivatif seperti Domestic Non-Delivery Forward (DNDF) dan Non-Delivery Forward (NDF) yang dinilai lebih efektif dalam meredam volatilitas tanpa menguras likuiditas devisa secara langsung.
Suku Bunga Tetap 5,75%: Inflasi sebagai Jangkar Utama
Di sisi kebijakan suku bunga, BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Keputusan ini didasarkan pada asesmen bahwa inflasi masih berada dalam kondisi terkendali. Destry menjelaskan bahwa inflasi inti (core inflation) masih stabil di sekitar 2%, sementara inflasi umum tercatat di 3,19%.
Kenaikan inflasi umum ini, menurut BI, lebih banyak dipengaruhi oleh komponen harga pangan bergejolak (volatile food) daripada tekanan permintaan domestik. Oleh karena itu, respons kebijakan tidak dapat hanya mengandalkan instrumen suku bunga, melainkan memerlukan koordinasi lintas sektor untuk mengendalikan harga pangan.
Tekanan Eksternal dan Risiko Level Rp18.000/USD
Meskipun BI berupaya menjaga stabilitas, tekanan eksternal tetap menjadi tantangan utama. Analis FX CNBC Indonesia, Elvan Chandra Widyatama, mencatat bahwa koreksi IHSG dan pelemahan rupiah ke Rp17.900 per Dolar AS pada penutupan sesi I Jumat (25/9) dipicu oleh sentimen global, khususnya kenaikan suku bunga acuan The Fed dan lonjakan yield US Treasury.
Kondisi ini mendorong aliran modal keluar (outflow) dari pasar emerging market, termasuk Indonesia. Kami menilai bahwa dengan indeks Dolar AS yang terus menguat, potensi pelemahan lanjutan rupiah ke level Rp18.000/USD menjadi skenario yang realistis jika tekanan eksternal tidak mereda.
Implikasi untuk Portofolio dan Aset Riil
Perubahan strategi BI ini memiliki implikasi langsung bagi investor institusional dan ritel:
1. Emiten Berutang Dolar: Pelemahan rupiah yang berpotensi menyentuh Rp18.000/USD akan meningkatkan beban bunga bagi perusahaan yang memiliki utang denominasi dolar. Kami menyarankan untuk mewaspadai emiten di sektor perbankan dan infrastruktur yang memiliki eksposur valas tinggi.
2. Sektor Ekspor: Bagi emiten ekspor, pelemahan rupiah dapat menjadi katalis positif bagi margin laba, terutama di sektor komoditas dan manufaktur yang berorientasi ekspor.
3. Amanat Aset: Dalam kondisi ketidakpastian kurs dan suku bunga global, diversifikasi ke aset lindung nilai seperti emas atau obligasi global dapat menjadi strategi mitigasi risiko yang prudent.
"Kalau sektor eksternal kita masih lemah tentu itu akan berat, sehingga kami bicara bagaimana program-program tingkatkan ekspor, investasi, termasuk real investment maupun portfolio investment," tegas Destry.
Kesimpulannya, BI sedang menyeimbangkan antara menjaga cadangan devisa dan stabilitas kurs. Investor perlu memantau perkembangan koordinasi pemerintah dalam mengendalikan inflasi pangan serta respons pasar terhadap kebijakan The Fed selanjutnya.
Sumber
- Kuras Cadev, BI Kurangi Intervensi Rupiah di Pasar Spot! Sisa 30% — CNBC Indonesia
- Destry Bongkar Alasan BI Tahan Suku Bunga 5,75%: Inflasi Masih Jinak — CNBC Indonesia
- Video: Sebab Rupiah Melemah dan Berpotensi Tembus Rp 18.000/USD — CNBC Indonesia



