AI Investdesk
Masuk
EKONOMI MAKRO·DAMPAK 8/10·Sentimen negatif

Rupiah Ujung Tanduk Rp18.000: BI Akui 'Strong Dollar', Pemerintah Genjot Ekspor

Tumpukan uang kertas rupiah dan dolar AS yang menunjukkan perbandingan nilai tukar mata uang.
Ilustrasi tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mendekati level psikologis Rp18.000.(Unsplash / Nicholas Cappello)
Poin kunci
  • —Rupiah ditutup di Rp17.965/US$ pada 28 September 2026, hanya berjarak 35 poin dari level psikologis Rp18.000.
  • —Gubernur BI Destry Damayanti mengaitkan pelemahan dengan fenomena 'strong dollar' yang dipicu kenaikan suku bunga The Fed ke 3,75%-4%.
  • —Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan fundamental ekonomi domestik masih baik dan asumsi RAPBN 2027 tetap di Rp17.500/US$.
  • —Strategi pemerintah difokuskan pada peningkatan ekspor untuk memperkuat penerimaan devisa, bukan intervensi langsung nilai tukar.
VIDEO: Gubernur BI: Mata Uang Dunia Hadapi "Strong Dollar" · CNBC Indonesia

TeKANAN DEVIASA: RUPIAH DI UJUNG TANDUK LEVEL PSIKOLOGIS

Pasar valuta asing Indonesia kembali menghadapi tekanan signifikan pada perdagangan Senin (28/9/2026). Menurut data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia, rupiah mengakhiri sesi perdagangan di posisi Rp17.965 per dolar AS, terdepresiasi 0,53% dari level sebelumnya. Posisi ini mengkhawatirkan banyak pelaku pasar karena hanya berjarak 35 poin dari ambang batas psikologis Rp18.000/US$.

Tekanan tersebut sudah terasa sejak pembukaan pasar, di mana rupiah dibuka melemah 0,22% di level Rp17.920/US$. Pergerakan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dinamika global yang belum mereda.

Faktor Pendorong: Fenomena 'Strong Dollar'

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan perspektif teknis mengenai penyebab utama pelemahan ini. Dalam program Evening Up CNBC Indonesia, Destry menjelaskan bahwa penguatan dolar AS terhadap mata uang negara lain, atau yang dikenal sebagai 'Strong Dollar', lebih disebabkan oleh tren kenaikan suku bunga acuan The Fed.

"Fenomena penguatan dolar hingga saat ini lebih disebabkan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, The Fed, yang terakhir sudah ke level 3,75% hingga 4%," ungkap Destry.

Kondisi ini menciptakan arus modal keluar (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, karena imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik bagi investor global.

Respons Pemerintah: Fokus pada Fundamental & Ekspor

Di tengah gejolak nilai tukar, pemerintah memilih pendekatan yang tenang namun strategis. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang menurutnya masih cukup baik.

"Kita monitor dulu. Pemerintah tentu kita akan menggenjot ekspor supaya devisa meningkat," kata Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa pemerintah tidak akan mengubah asumsi dasar ekonomi makro untuk tahun depan. Asumsi nilai tukar dalam RAPBN 2027 tetap dipertahankan di level Rp17.500/US$, menunjukkan keyakinan pemerintah terhadap pemulihan devisa melalui jalur perdagangan.

Parameter Nilai/Terakhir Konteks
Kurs Penutupan (28/9/2026) Rp17.965/US$ Melemah 0,53%
Level Psikologis Rp18.000/US$ Jarak 35 poin
Suku Bunga The Fed 3,75% - 4% Pemicu 'Strong Dollar'
Asumsi RAPBN 2027 Rp17.500/US$ Tetap dipertahankan

Analisis Dampak ke Aset Riil & Portofolio

Kami menilai bahwa pendekatan pemerintah yang fokus pada ekspor akan memberikan dampak langsung pada sektor-sektor yang menjadi tulang punggung devisa. Emiten-emiten di Indeks IDX yang memiliki eksposur ekspor tinggi, khususnya di sektor komoditas energi (minyak dan gas) serta emas, berpotensi menjadi pelindung nilai (hedge) alami bagi investor domestik.

Ketika rupiah melemah, pendapatan perusahaan yang dinominalkan dalam dolar AS akan meningkat saat dikonversi ke rupiah, sehingga meningkatkan margin laba bersih. Sebaliknya, sektor yang sangat bergantung pada impor bahan baku atau memiliki utang valas besar akan menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi.

Untuk investor yang terpapar pada US Tech, fenomena 'strong dollar' biasanya berkorelasi negatif dengan valuasi saham teknologi global karena arus balik dana ke AS. Namun, bagi investor Indonesia, diversifikasi ke aset komoditas fisik seperti emas dapat menjadi strategi mitigasi risiko volatilitas mata uang yang efektif dalam jangka pendek.


Artikel ini disusun berdasarkan data faktual dari CNBC Indonesia dan analisis independen AI Intelligence Desk. Bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu.


Sumber

ASET YANG DISEBUT DALAM LAPORAN INI
USDIDR

Grafik harga dan penilaian komite untuk aset di atas ada di terminal. Buat akun gratis untuk membukanya.

Warta terkait

Warta ini hanya separuh ceritanya

Grafik harga langsung, putusan empat agen AI, katalog 400+ instrumen, dan laboratorium backtest ada di dalam terminal. Buat akun gratis untuk membukanya.